Langsung ke konten utama

Berbicara dengan prosa

Hai tuan yang inisial namanya masih berada pada abjad ke lima dari akhir, terima kasih telah menyapaku kembali setelah sekian lama tak ada kabar, kebetulan atau memang kamu telah membaca kalimat-kalimat yang ku tulis semalaman sambil meneteskan air mata?  Senang mendengar kabarmu yang memang baik-baik saja atau sedang berpura-pura sepertiku; yang selalu ku usahakan baik-baik saja. Jadi apa kesibukanmu sekarang? kalau aku sih tidak usah kau tanya lagi dari dulu hingga sekarang kesibukanku adalah menunggumu dari pagi hingga petang, hujan hingga badai.  Hai boleh ku ucap rindu? canggung ya setelah lama tak saling tegur sapa, aku kira kamu sudah lupa denganku si wanita yang kerjaannya mengeluh, yang sudah banyak merepotkanmu karena air mata yang terus jatuh, akibat merindukanmu. Kamu bertanya padaku bagaimana kabar hatiku sekarang, tentu jawabannya tidak pernah baik-baik saja jika kamu tahu. Merindu itu sesak, apa lagi yang aku rindukan kamu yang statusnya bukan siapa-siapa, milikku? tentu bukan. Kamu  hanya berkata ingin dekat bukan terikat.  Sekali lagi terima kasih telah memberiku kabar, beberapa patah kata darimu telah mengobati rindu ku padamu, setidaknya untuk saat ini aku telah mendapat obat penawar rindu darimu, jangan hilang tanpa permisi dan kembali sesuka hati. Bisakah kau lebih serius? jika kalimat yang kamu lontarkan sebulan yang lalu itu memang benar, tolonglah  cukup berikanku kabar sesibuk apapun kamu aku tak pernah menuntut waktumu lebih hanya ingin mengetahui bagaimana harimu kau jalani Namun jika tak berniat untuk serius, tolong pergilah jangan memberi harapan, membuat  rindu berkepanjangan yang tak bisa kamu pertanggung jawabkan, apalagi sampai membuat anak gadis orang menangis semalaman.  —AnggiClara

Komentar